Arch Linux itu salah satu distro paling populer, dan ada alasannya. AUR itu sangat memudahkan hidup, wiki-nya lengkap banget kayak manual kehidupan, dan hampir semua tweak yang kamu butuhin pasti ada dokumentasinya.
Aku udah sering gonta-ganti distro—Mint, LXDE spins, XFCE, sebut aja—tapi aku selalu balik lagi ke Arch Linux. Satu-satunya hal yang dulu bikin males adalah instalasi manualnya. Memang powerful sih, tapi makan waktu banget kalau kita cuma pengen sistem yang jalan.
Terus aku nemu script archinstall. Ini cara install Arch yang “tetep keren, tapi sibuk”. Ga perlu malu, ga ada gatekeeping—cuma alur terpandu yang tetep ngebolehin kamu ngatur sistem sesuai keinginan.
Archinstall udah ada di dalam ISO resmi dan nyediain UI terstruktur buat milih disk, paket, dan setup lainnya. Ini ga ngilangin kontrol kamu; cuma motong proses ngetik yang berulang-ulang.
Sebelum menjalankan archinstall
- Pertama, siapin disk yang bakal kamu wipe. Panduan ini mengasumsikan install bersih, jadi backup semua data penting—archinstall bakal format disk target tanpa ampun.
- Kedua, ambil ISO Arch terbaru, flash ke USB (Rufus, Ventoy, terserah), boot ke dalamnya, dan connect internet. Wi-Fi via iwctl atau colok LAN—bebas, asal bisa download paket pas install.
Begitu masuk ke live environment dan connect, jalankan installer terpandu dengan ngetik archinstall.
Set/Modify the below options
> Archinstall language set: English (100%)
Keyboard layout set: us
Mirror region set: []
Locale language set: en_US
Locale encoding set: utf-8
Drive(s)
Bootloader set: systemd-bootctl
Swap set: True
Hostname set: archlinux
Root password set: None
User account
Profile set: None
Audio set: None
Kernels set: ['linux']
Additional packages set: []
Network configuration set: Not configured, unavailable unless setup manually
Timezone set: UTC
Automatic time sync (NTP) set: True
Optional repositories set: []
Save configuration
Install (2 config(s) missing)
Abort
(Press "/" to search)
Konfigurasi andalanku
- Archinstall language:
English (100%) - Keyboard layout:
us - Mirror region: biarin kosong atau pilih mirror deket kamu
- Locale language:
en_US - Locale encoding:
utf-8 - Drive(s): pilih disk target
- Disk layout: Wipe all (ya, ini bakal hapus semua di disk itu)
- Bootloader:
systemd-bootctlatauGRUB(aku lebih sukasystemd-bootctl) - Hostname: nama apa aja yang bikin seneng—aku biasanya cuma
arch - Root password: aku skip dan ngandelin sudo
- User account: Pilih “Add a user”, ketik username (aku
ripa), set password, jawab “yes” pas ditanya user jadi sudoer, terus Confirm and exit - Profile: pilih sesuai kebutuhan—
desktop -> kdekalau mau Plasma, dan sesuaikan driver grafis sama hardware kamu - Audio: aku pake
pipewire - Kernel:
linuxbawaan udah cukup kecuali ada alesan khusus buat ganti - Additional packages: tambahin ekstra kayak
chromiumkalau butuh langsung - Network configuration:
Use NetworkManager - Timezone:
Asia/Jakarta - Automatic time sync:
True - Optional repositories: biasanya cuma
['multilib']biar bisa install Steam nanti
Kalau semua udah kelihatan oke, pilih Install, ambil minum sambil nunggu nyalin file, terus reboot ke setup Arch barumu. Ga perlu ritual kuno lagi. 😄